Senin, 24 Oktober 2016

“Kebijakan kependudukan yang dianut oleh pemerintah Republik Indonesia Saat Ini”

Penduduk atau rakyat adalah unsur utama terbentuknya suatu negara. Penduduk juga merupakan aset penting pertumbuhan ekonomi suatu negara. Penduduk Indonesia pada tahun 2015 menurut proyeksi yang dipublikasikan oleh United Nations dalam World Population Prospects (The 2015 Revision) adalah sebanyak 258 juta jiwa. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Kondisi ini dapat menjadi modal berharga dalam pembangunan Indonesia. Sebaliknya, kondisi ini dapat menjadi penghambat jika tidak dikelola dengan kebijakan kependudukan yang tepat.
Lingkungan, kondisi sosial budaya, kondisi ekonomi, dan politik berpengaruh terhadap pola kependudukan suatu wilayah. Oleh karena itu, masalah dan isu kependudukan antar wilayah dapat berbeda tergantung dari kondisi wilayah masing-masing. Perbedaan masalah dan isu kependudukan tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap teori kependudukan yang cetuskan oleh berbagai tokoh demografi. Sehingga, pemerintah di suatu negara harus bijak dan tepat dalam mengadopsi teori-teori kependudukan yang akan diterapkan dalam rangka perumusan kebijakan kependudukan di negara tersebut.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbentang luas dengan beragam suku bangsa didalamnya tentunya memiliki permasalahan kependudukan sendiri. Sebagian besar wilayah Indonesia adalah pedesaan dengan permasalahan utama keterbatasan akses terhadap berbagai fasilitas kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, dan lapangan usaha. Kondisi ini menimbulkan isu-isu kependudukan antara lain tingginya fertilitas, mortalitas, dan urbanisasi. Salah satu contoh yang sangat nyata saat ini adalah persebaran penduduk yang tidak merata antar wilayah Indonesia.
Program kependudukan yang populer dilaksanakan pemerintah indonesia dalam mengatasi permasalahan kependudukan di Indonesia hingga saat ini antara lain :
1.    Transmigrasi
Suatu program pemerintah untuk memindahkan penduduk dari wilayah padat ke wilayah yang jarang penduduknya. Program ini telah dimulai sejak penjajahan belanda untuk memasok tenaga kerja ke wilayah perkebunan yang jarang penduduk. Setelah kemerdekaan program ini diteruskan pemerintah Republik Indonesia karena dinilai memberikan dampak positif. Selain mengatur distribusi penduduk program transmigrasi juga menjadi upaya pengembangan wilayah. Akan tetapi, saat ini program tersebut sudah tidak terlalu gencar mengingat tingginya biaya yang dibutuhkan dalam penyelenggaraannya.
2.    Keluarga Berencana (KB)
Suatu program yang bertujuan membentuk keluarga kecil yang berkualitas melalui penekanan jumlah kelahiran. program ini dilaksanakan sejak jaman orde baru yaitu sekitar awal tahun 1970-an dan masih terus dilanjutkan hingga saat ini oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini terlaksana bukan tanpa kendala. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 partisipasi penggunaan alat KB perempuan adalah sebesar 96,79 persen dan alat KB laki-laki hanya sebesar 1,42 persen, serta sisanya KB tanpa alat. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya partisipasi KB oleh laki-laki.
3.    Peningkatan kualitas kesehatan dan pemberdayaan perempuan
Program kebijakan lain yang juga di laksanakan pemerintah dalam mengatasi isu kependudukan adalah peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pemberdayaan perempuan. Program ini dilaksanakan dengan harapan untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk yang akan berdampak terhadap penurunan angka mortalitas dan peningkatan angka harapan hidup. Salah satu contoh kegiatan yang sedang gencar dilaksanakan pemerintah saat ini adalah Kartu Indonesia Sehat (KIS).
       Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebijakan kependudukan di Indonesia bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan serta meningkatkan kondisi sosial dan ekonomi penduduk. Tujuan tersebut mengarah kepada kebijakan demografi yang bersifat antinatalis. Kebijakan antinatalis ini berorientasi pada penurunan angka kelahiran dimana hal ini terlihat dari pelaksanaan program KB yang masih gencar dilaksanakan oleh pemerintah Republik Indonesia.

Jakarta, 1 September 2016

E KTP, Siapkah Kita

Data Kependudukan merupakan salah satu modal utama dalam perencanaan pembangunan suatu wilayah. Tersedianya data kependudukan yang lengkap dan akurat dapat mendukung perencanaan yang lebih efektif dan tepat sasaran.
Sumber data Kependudukan Secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu sensus, survei, dan registrasi vital. Data sensus dan survei merupakan data kependudukan yang diperoleh melalui metode pengumpulan data. Metode ini penyelenggara pemerintah melakukan pencatatan dengan cara mendatangi penduduk. Sedangkan pada registrasi vital penduduk yang lebih aktif mendatangi penyelenggara pemerintahan untuk melaporkan peristiwa kependudukannya. Ketiga metode ini memiliki kelebihan dan keterbatasan masing-masing.
 “National Identity Card (ID Card)” adalah salah satu alat yang digunakan mayoritas negara di dunia pada metode registrasi vital. Di indonesia penerapan ID Card tersebut diadopsi dengan istilah Kartu Tanda penduduk (KTP). Kemajuan teknologi informasi mendorong negara–negara di dunia mengembangkan sistem ID Card berbasis teknologi Informasi tidak terkecuali Indonesia.
KTP Elektronik (e-KTP) yang resmi diluncurkan pada februari 2011 adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan/ pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan nasional. Pada penerapannya setiap penduduk yang telah melakukan registrasi akan diberikan Nomor Induk Kependudukan (NIK) tunggal (unik) dan berlaku seumur hidup. Menurut UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan Pasal 13, Nomor NIK tersebut akan dijadikan dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah, dan penerbitan dokumen identitas lainnya. Permasalahannya, sudah siapkah Indonesia menerapkan sistem ini?
Penerapan e-KTP dari sisi pendataan ternyata cukup efektif dalam mememinimalisir KTP palsu dan duplikat (ganda). Evaluasi Kementrian Dalam Negeri terhadap hasil perekaman awal e-KTP ditemukan sekitar 480.000 identitas KTP ganda. Hal ini dicapai karena adanya dukungan pengamanan biometrik (retina mata/iris dan sidik jari) pada sistem e-KTP. Namun, yang masih menjadi permasalahan adalah realisasi perekaman data masih jauh dari target. Geografis Indonesia yang sangat luas dengan hamparan kepulauan menjadi salah satu kendala tersendiri. Hingga kurang lebih lima tahun pelaksanaannya masih banyak wilayah yang realisasi perekaman e-KTPnya masih berkisar 40-80 persen. Permasalahan yang terjadi antara lain keterbatasan jumlah infrastruktur dan peralatan perekaman, kualitas sumber daya petugas, kekurangan blangko, hingga aksesibilitas dan kesadaran masyarakat menuju lokasi perekaman e-KTP.
Ditinjau dari sisi pemanfaatan, E-KTP sudah bersifat elektronik karena didalamnya ditanamkan chip (pembaca kartu). Chip ini berfungsi memudahkan dalam pemanfaatan informasi kependudukan oleh stakeholder terkait. Namun hingga lima tahun lebih sejak diluncurkan, sifat elektronik dari e-KTP belum dimanfaatkan secara optimal. Seharusnya, dalam pengurusan administrasi kependudukan guna penerbitan Paspor, SIM, NPWP, sertifikat, kegiatan perbankan, dan lainnya sudah bersifat elektronik pula. Petugas tidak perlu lagi meminta fotokopi e-KTP sebagai dokumen pendukung karena sudah dapat membaca informasi dari chip yang tertanam. Sifat elektronik ini bila masih dimanfaatkan secara manual membuat sistem yang dibangun dengan biaya besar ini menjadi mubazir. Kurang optimalnya pemanfaatan e-KTP terjadi karena kurangnya persiapan, infrastruktur, dan sosialisasi mengenai alat pembaca e-KTP kepada Stakeholder terkait.
Kesimpulannya penerapan e-KTP memiliki banyak manfaat dalam efektifitas dan efisiensi pengelolaan data administrasi kependudukan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya masih banyak hal yang belum dipersiapkan secara matang yang menyebabkan kurang optimalnya hasil yang diperoleh. Pelaksanaan proyek e-KTP seharusnya berjalan beriringan antara proses perekaman di masyarakat dan pemanfaatan e-KTP oleh stakeholder baik dari sisi infrastruktur maupun sosialisasi. Siap atau tidak transformasi harus segera dimulai, tinggal bagaimana pemerintah dapat mengoptimalkan manfaat dari anggaran besar yang sudah dikeluarkan dalam mega proyek ini demi kemajuan pengelolaan data kependudukan dimasa mendatang.

Jakarta, 4 September 2016

Selasa, 30 Agustus 2016

Daya reproduksi manusia Pola Hidup Manusia

Just Share ya teman-teman
Hasil kuliah perdana Tehnik dan Analisis demografi hari ini, sapa tau ada yang butuh... hehehe
Ternyata ada loh teori dari tokoh-tokoh teori fisiologis mengenai hubungan antara daya reproduksi manusia Pola Hidup Manusia :

A.    Michael Thomas Sadler (3 January 1780 – 29 July 1835)
1.    Pekerjaan berat dan makanan sederhana → Menaikkan daya reproduksi
2.    Banyak waktu luang dan makanan berat →  Menekan daya reproduksi

B.    Doubleday
Kenaikan kemakmuran akan mengakibatkan turunnya daya reproduksi manusia. Kekurangan bahan makanan akan merupakan faktor perangsang daya reproduksi manusia.
Penduduk negara-negara berkembang bertumbuh lebih cepat daripada penduduk negara-negara maju.
a.       Penduduk negara berkembang
   *  Mengkonsumsi makanan vegetaris → daya reproduksi naik.
b.      Penduduk negara maju
  *  Mengkonsumsi daging → daya reproduksi turun.

C.    Jose de Castro (1953)
   Menghubungkan tingkat kelahiran suatu negara dengan penggunaan kadar protein makanan. Jika banyak mengkonsumsi makanan yang kaya akan protein hewani, seperti daging, telur dan susu, maka angka kelahiran rendah. Jika mengkonsumsi makanan yang kurang protein hewani maka angka kelahiran tinggi.

Data hasil penelitian Jose de castro :
Negara
Angka kelahiran
Protein hewan/hari
Formosa
45,6
4,7
Malaya
39,7
7,5
India
33,0
8,7
Jepang
27,0
9,7
Yugoslavia
25,9
11,2
Yunani
23,5
15,2
Italia
23,4
15,2
Bulgaria
26,2
16,8
Jerman
20,0
37,3
Selandia Baru
19,1
46,7
Denmark
18,3
59,1
Australia
18,3
59,9
Amerika Serikat
17,9
61,4
Swedia
15,0
62,6






















  
Semoga bermanfaat, baik buat yang suka demografi maupun pasangan yang mungkin belum memperoleh rezeki...
Indahnya berbagi. Wassalam


Kamis, 18 Agustus 2011

Merawat kaos kesayangan

Saya yakin bahwa anda pasti punya kaos di rumah, entah itu 1, 2 atau mungkin malah buanyak???, tp berapa banyak dari anda yang sudah tau cara merawat kaos agar bertahan lama(awet)???. kalo belom tau, berikut cara menjaga agar kaos (t-shirt / t shirt) yang anda pakai awet.

Jangan Direndam Terlalu Lama - Jangan merendam kaos Anda terlalu lama. Usahakan untuk kaos yang baru pertama kali dicuci tidak direndam lebih dari 30 menit, dan untuk kaos lama tidak lebih dari 1 jam. Jangan pula rendam dalam air dengan deterjen berlebihan. Karena deterjen berlebih dapat mengakibatkan sablon pada kaos cepat rusak / terkelupas.

Pisahkan saat dicuci - Pisahkan kaos Anda dengan pakaian lain, khususnya yang berwarna kuat seperti hitam, merah, biru, dsb dengan kaos berwarna putih. Hal ini guna mencegah seandainya warna kuat tersebut luntur tidak mengakibatkan kaos putih kesayangan Anda terkena dampaknya. Pisahkan juga antara pakaian yang kotor dengan yang kurang kotor agar kotoran tidak berpindah.

Jangan disikat - Kaos berbahan cotton memiliki tekstur kain yang lembut. Hindari menyikat kaos tipe ini, karena dapat merusak tekstur kain. Hindari juga kucekan dan perasan yang kuat karena selain merusak pori-pori baju juga dapat mengonyak sablon, khususnya pada kaos selain warna putih dan abu.

Jemur terbalik - Tahukah Anda bahwa sinar matahari berlebih dapat mengakibatkan warna kaos dan sablon anda memudar. Untuk mencegahnya jemur kaos Anda dengan posisi terbalik. Bagian dalam menghadap luar, dan bagian yang bersablon di dalam.

Jangan digantung - Hindari menggantung dengan hanger pada bagian leher kaos. Hal ini karena dapat mengakibatkan leher kaos lekas melar. Melarnya ini akibat tidak kuat menahan beban air yang ada pada kaos basah. Hindari juga menggantung kaos pada tali/kawat jemuran, karena kontur tali / kawat dapat dengan mudah merusak tekstur kain yang halus.

Hindari Pemutih - Hindari mencuci kaos bersablon dengan pemutih / detergen yang mengandung pemutih. Hal ini karena reaksi kimia pemutih dapat mengakibatkan sablon menjadi luntur / terkelupas. Disamping itu juga membuat kaos lebih cepat tipis dan kasar.

Hindari mencuci dengan Mesin cuci - Sebaiknya cuci kaos Anda secara manual dengan tangan. Mencuci dengan mesin cuci dapat mengakibatkan kaos menjadi melar, sablon cepat rusak dan pori - pori kain kasar. Hal ini karena saat berputar kaos akan menerima beban tarik - ulur dan gesekan dengan kain lain disekitarnya.

Setrika - Agar kaos Anda awet, sebaiknya selalu setrika setelah dicuci-jemur. Pastikan menyetrika baju dalam keadaan kering. Dan untuk kaos berwarna selain putih, hindari menyetrika pada bagian sablon. Atur juga agar posisi panas setrika Anda pada posisi sedang.

Noda - Apabila kaos kesayangan Anda terkena noda, segera cuci pada bagian yang bernoda. Gunakan shampoo/detergen, oleskan pada bagian nota. Gosok dengan halus dan bilas dengan air bersih hingga noda menghilang.

Kaos keren bukan untuk tidur - Agar kaos Anda awet hindari menggunakannya untuk tidur. Mengapa? Karena kaos akan menjadi cepat kotor khususnya di bagian leher. Saat Anda tidur sadar atau tidak Anda berkeringat. Kombinasi keringat dan kotoran debu pada seprai akan membuat kaos Anda kotor. Selain itu juga pressure pada kaos akan membuatnya lekas melar. Sayang kan kalo kaos keren dipakai buat tidur? :)

Pakailah seperlunya - Apabila Anda sayang dengan kaos Anda yang keren, sebaiknya pakailah seperlunya alias di saat-saat penting Anda perlu bergaya saja. Jangan ckp ckp alias cuci kering pake cuci kering pake :) Dan jangan lupa, simpanlah pada tempat yang kering dan tidak lembab!

Ok, mudah mudahan tips ini dapat membantu..

Sabtu, 13 Februari 2010

SENSUS PENDUDUK 2010

Sensus Penduduk (SP) merupakan kegiatan nasional berupa kegiatan pengumpulan data yang penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 dan sekaligus merupakan rekomendasidari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sensus Penduduk dilaksanakan oleh BPS setiap sepuluh tahun sekali dan telah dilaksanakan lima kali di Indonesia sejak kemerdekaan, yakni pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990, dan 2000. selanjutnya akan dilakukan pada setiap tahun yang berakhiran  nol.
Sensus Penduduk adalah Sumber utama data statistik kependudukan di Indonesia. Data hasil Sensus Penduduk sangat penting untuk menunjang berbagai kekebijakan pemerintah dalam bidang kependudukan. Data tersebut sangat berguna bagi perencanaan pembangunan agar tepat guna dan tepat sasaran.
Pada Tahun 2010 BPS sakan melaksanakan Sensus Penduduk Yang Keenam yaitu Sensus Penduduk 2010 (SP2010). Tujuan pelaksanaan SP2010 adalah untuk menyediakan data dasar kependudukan yang terkini baik dari segi jumlah maupun parameter-parameter kependudukan. Data statistik kependudukan hasil SP2010 merupakan data yang sangat ditunggu dan diharapkan oleh semua pihak karena sampai saat ini hasil registrasi penduduk belum dapat menghasilkan data kependudukan seperti yang diharapkan, yaitu mampu memberikan gambaran keadaan penduduk Indonesia.
Kesuksesan Sensus Penduduk adalah kesuksesan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia karena data hasil Sensus Penduduk akan sangat berperan dalam segala pembangunan nasional berbasis kependudukan. Dukungan Segenap masyarakat dalam memberikan informasi dan keterangan kepada para petugas Sensus dengan benar dan kooperatif akan dapat mendukung  keberhasilan SP2010. Oleh karena itu "Pastikan Anda Dihitung" dalam SP2010 dan berikan data yang sebenarnya kepada para petugas sensus.
SUKSESKAN SENSUS PENDUDUK 2010
PASTIKAN ANDA DIHITUNG!!!!!

Kamis, 07 Agustus 2008

DAN KITA ADALAH SAUDARA

letih mencari jalanku jalanmu satu
bahasaku bahasamu?
kubicara dengan gagu
kau memaksaku menari dengan kicau elang
kutakutkan
letih dengan deras arus
inginku cipta tornado yang batu
dan
kulenyapkan kau…………………

CinTa

“Huh!!”, helaan napas yang berat ditumpahkan sesosok tubuh yang terbaring letih di sofa tua ruang tamu . Ditatapnya lagi tulisan berbentuk puisi yang baru dibuatnya. “Ah…Tidak seharusnya aku begini. Bukankah beginilah hidup?” katanya dalam hati.
Rasa marah itu masih ada. Tidak mudah baginya melupakan peristiwa yang baru beberapa jam yang lalu terjadi.
“Nit, boleh minta pulsanya lagi ga?. Aku harus beritahu Mirna kalo ada perubahan jadwal penjemputan Murobbi untuk kajian besok”, katanya di ruang panitia acara Tahun baru Islam, yang penuh dengan dokumen dan kertas warna-warni terhampar.
“ Sehari, satu sms aja yah” jawab Nita dingin sambil tetap menatap angka-angka di nota-nota yang sibuk dipindahkan ke buku anggaran.
Raut mukanya langsung tercekat kaku. Kata-kata itu mungkin biasa. Tapi baginya,itu terlalu kasar untuk keluar dari bibir teman seperjuangannya selama 2 tahun di organisasi ROHIS kampusnya. Terdiam dia dan langsung ditinggalkanya Nita. Dan goresan itu jadi tulisan luka di hatinya.Sakit!.
Dipejamkanya kembali mata, berusaha menghilang dari bayang-bayang peristiwa itu. “Krieet…”, suara pintu kamar di hadapan sofa itu,terbuka.